Sakitnya tuh disini.
Begitulah, seperti judul diatas.
Sekitar jam 13:35 hari ini, saya ketabrak motor.
*
Kronologis
Siang itu saya sedang dalam perjalanan untuk urusan transfer-transfer duit ke rekening orang.
Online shop, duh.
Online shop, duh.
Saya berangkat dengan sebuah sepeda ontel oranye bernama Tsuna. Sebelum berangkat, saya dihalangi oleh beberapa hambatan.
1. Kunci pagar rumah saya hilang. Saya harus cari kunci, dan itu membutuhkan waktu yang lumayan lama.
2. Saat akan membuka pagar menuju kebebasan, terjadilah yang disebut nyandet. Saya memutuskan untuk meminyaki sang gembok yang nakal, akhirnya baru dapat dibuka. Rewel sekali kan.
3. Harinya mendung, dan mau gerimis. Bisa berabe kan bawa ATM dan kehujanan.
4. Saat sampai di ATM dan mau memarkir sepeda ontel saya yang berwarna orens, sepeda saya jatuh dan penyangganya susah diberdiriin. Yah tapi akhirnya i made it just fine fellas.
ATM sepi. Saya nggak perlu repot-repot antri. I rejoiced on the spot.
Setelah itu yah, saya menyelesaikan urusan di dalam ruang harum itu dan akhirnya keluar.
Saya nyebrang.
Jalanan kelihatan sepi, jadi saya agak half assed.
Waktu lari, saya mendengar suara... manusia bersabda!
"Awas, awas."
THAT AINT RIGHT HUH.
OH WELL, NEVER MIND.
ATM sepi. Saya nggak perlu repot-repot antri. I rejoiced on the spot.
Setelah itu yah, saya menyelesaikan urusan di dalam ruang harum itu dan akhirnya keluar.
Saya nyebrang.
Jalanan kelihatan sepi, jadi saya agak half assed.
Waktu lari, saya mendengar suara... manusia bersabda!
"Awas, awas."
THAT AINT RIGHT HUH.
OH WELL, NEVER MIND.
and then BUAGH.
Terlontarlah tubuh saya (lol gak segitunya juga sih.)
Saya terjatuh dengan cantiknya (OBVIOUSLY), lalu saya membuka mata(sepertinya waktu impact dengan refleks saya menutup mata.)
And i was like, wow.
I got hit.
OH MY GHAWD I GOT HIT THIS IS SO EPIC!
Reaksi pertama saya,
WHERE IS MY BEAUTIFUL WALLET.
Lalu tukang parkir langsung lari, menghampiri saya, tapi nggak nolongin. Hanya menghampiri dan menyuruh saya mengambil dompet yang dengan epicnya terlempar ke emperan.
Yang nabrak saya adalah seorang anak kuliahan, pakai jas, dengan motor ninja warna hitam.
I'm so lucky i'm alive with little scratches.
Aku dengan kebaikan saya yang ultimate, saya bertanya kepada sang penabrak.
"Senpai are you okay?"
Dan dia memberiku tatapan sinis tanpa menjawab.
Padahal posisi saya disini adalah sebagai seorang korban. KORBAN. Korban kelalaian seorang mas-mas kuliahan.
Namun makhluk dari kaum adam itu hanya dapat menatapi saya... sinis. Dari tadi menatap dengan sinis.
Namun makhluk dari kaum adam itu hanya dapat menatapi saya... sinis. Dari tadi menatap dengan sinis.
Kemudian saya tanya lagi dengan sopan, "Senpai daijobu?"
Senpai tetap tidak menjawab. Dia bangkit sambil minggirin motornya ke tepi jalan, dibantu tukang parkir yang tadi menyuruh saya like "Get your own damn wallet you goddamn brat."
Result:
1. Luka di siku kanan.
2. Luka di dengkul kanan.
3. Robeknya celana No Fear yang harganya 60 dolar.
Senpai tetap tidak menjawab. Dia bangkit sambil minggirin motornya ke tepi jalan, dibantu tukang parkir yang tadi menyuruh saya like "Get your own damn wallet you goddamn brat."
Result:
1. Luka di siku kanan.
2. Luka di dengkul kanan.
3. Robeknya celana No Fear yang harganya 60 dolar.
Huh.
Saudara sekalian.
Seharusnya saya hati-hati dalam menyeberang.
You don't say.
Saudara sekalian.
Seharusnya saya hati-hati dalam menyeberang.
You don't say.
Sekian.
Pelajaran dari saya, hati-hatilah dalam menyeberang!
*
ao.
(the half assed-est blogpost i've ever made)

No comments:
Post a Comment